Slider

5/random/slider

Advertisement

Main Ad

Mengenang Haul Gus Dur dengan Cap Go Meh

Hari ini, tepatnya sebelas tahun silam menjelang dua hari Tahun Baru. Masyarakat dari Sabang sampai Merauke berduka. Sebabnya, Presiden ke - 4 Republik Indonesia (RI) Abdurrahman Wahid berpulang. Namun tokoh bangsa yang memiliki keberpihakan kepada kelompok minoritas, tanpa memandang Ras,Suku & Agama ini warisannya akan selalu dikenang. Nah, berikut secuil kecintaan masyarakat Klaten mengenang sosok yang wafat pada usia 69 tahun ini sembari merayakan Cap Go Meh

Merayakan Haul Gus Dur sekaligus Cap Go Meh di Alun-Alun Klaten
Para santri mengenakan topeng Gus Dur 


Haul Gus Dur dan Cap Go Meh di Klaten

Pemandangan berbeda terlihat di Alun-Alun Klaten, Jumat (10/2/2017) sore. Tanah lapang di jantung kota yang biasanya sepi ramai pedagang kaki lima (PKL) ini mendadak dipenuhi seribuan orang yang mengenakan topeng kertas bergambar sosok Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur yang dibagikan oleh sejumlah penari.

Mengangkat sosok Nyai Melati yang menjadi tonggak sejarah asal usul nama Klaten, acara untuk memperingati Haul Gus Dur yang dikemas dalam pagelaran seni budaya itu juga sebagai penanda penutupan kemeriahan Hari Imlek alias Cap Go Meh. 

Kegiatan diselenggarakan oleh sejumlah elemen masyarakat Klaten dari Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB) Kebersamaan, Gusdurian, Komunitas Multikultur Klaten, dan GP Ansor Klaten itu dibuka oleh putri Gus Dur sekaligus Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid. 

Dramaturgi "Bersatu Melawan Angkara Murka" 

Haul Gus Dur sekaligus Cap Go Meh di Alun-Alun Klaten

Dramaturgi dibawah guyuran hujan ini dimulai dengan arak-arakan Nyai Melati yang membawa empat gunungan berisi hasil bumi untuk dibagikan kepada para pengunjung di Alun-alun Klaten. Tak berselang lama, datanglah puluhan orang yang dipimpin oleh sesosok ogoh-ogoh tikus raksasa. Dengan rakusnya, mereka menjarah gunungan. Begitu puas dan kenyang, lantas para penjarah menggunakan kain putih yang dikenakan Nyai Melati sebagai lap pencuci tangan. 

Dengan mengatupkan tangan ke dada layaknya bersemedi, Nyai Melati tetap berdiam diri. Lalu datanglah barongsai sebagai simbol kepahlawanan yang menghalau ogoh-ogoh dengan cara memasukkannya ke dalam kandang ayam raksasa. Kemudian Nyai Melati yang welas asih mengajak para penjarah untuk membersihkan diri di sendang sebagai simbol mensucikan diri dari kotoran. 

Menurut Yeni Wahid, dramaturgi tersebut sungguh menggambarkan siklus kehidupan yang terjadi di Indonesia saat ini. Angkara murka dengan merajalelanya korupsi, bukan hanya soal mengambil uang yang bukan miliknya, namun juga perilaku korupsi sosial.

"Ketika ada orang lain memperlakukan sesamanya dengan sewenang-wenang, membuat kondisi tidak aman, itu adalah perilaku korupsi sosial. Namun itu semua bisa dilawan ketika masyarakat bersatu, tanpa sekat kesukuan, sekat agama, kelas sosial, kita bisa melawan angkara murka di Indonesia. Ini yang akan saya bawa, saya tularkan sebagai suntikan semangat optimisme," ujar dia.

Orasi Budaya Yeni Wahid

"Hari ini saya melihat sosok Gus Dur bukan hanya karena topeng kertasnya, namun juga keterlibatan masyarakat dalam acara ini yang penuh keikhlasan untuk saling berbagi. Gus Dur bagi saya lebih dari bapak, tapi seorang pemimipin. Saya sebetulnya anak biologisnya, tapi bapak ibu sekalian anak ideologis Gus Dur. Mereka yang menyebarkan virus toleransi dan perdamaian di dunia, mereka yang berjuang bagi orang-orang yang  teraniaya dan terzolimi, mereka yang tidak akan mau berkompromi dengan perilaku korupsi, itulah anak ideologis Gus Dur. Kita semua anak-anak Gus Dur," imbuh Yeni dalam orasi budayanya.

Bagimu Negeri Menggema

Haul Gus Dur di Klaten

Sebelum puncak dramaturgi, para santri, paduan suara gereja, dan masyarakat yang hadir di Alun-Alun menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Selain itu, sejumlah pemuka agama dan kepercayaan mendaraskan doa lintas iman. Puncaknya, diiringi musik ganjur khas Bali yang dimainkan sejumlah pemuda Hindu, dua barongsai bergerak lincah menambah kemeriahan pembakaran ogoh-ogoh tikus raksasa. 

"Sejak dua hari lalu para santri di Klaten juga menggelar doa Khataman al-Qur’an untuk Haul Gus Dur hari ini. Kesederhaan Gus Dur patut dicontoh oleh siapapun termasuk para pejabat. Yakni, mengutamakan kepentingan umat dan tidak memperkaya diri sendiri maupun golongan," tandas Koordinator acara yang juga Ketua Umum GP Ansor Klaten, Marzuki Adnan.


  

Sorehore
Sorehore.com dirancang sebagai ruang alternatif untuk menulis dan mencatatkan kisah perjalanan sebagai kliping digital
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Follow by Email