Slider

5/random/slider

Advertisement

Main Ad

Memandang Bintang Pengharapan di Gua Maria Sartika Semarang

Gua Maria Sang Ratu Tyasing Kautaman atau dikenal Gua Maria Sartika merupakan taman doa tersembunyi bagi umat Katolik di Kota Semarang. Saking tersembunyinya, Gua Maria Sartika bersebelahan langsung dengan kuburan alias tempat pemakaman umum (TPU). Horeluya! 

Gua Maria Sartika di Kota Semarang

Sorehore.com - Siapa sangka, di balik keramaian Kota Semarang ternyata ada taman doa untuk berdevosi kepada Santa Maria. Apalagi dengan tsunami berita Covid-19 yang lama-lama bikin jenuh, Gua Maria Sang Ratu Tyasing Kautaman ini cocok untuk menyepi, mencari ketenangan hati dan pikiran. 

Kenapa disebut Gua Maria Sartika? 

Gua Maria Sang Ratu Tyasing Kautaman memang populer disebut Gua Maria Sartika. Alasannya? Lokasinya berada di Jalan Dewi Sartika Barat VI, tepatnya di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. 

Sedangkan secara administrasi gereja Katolik, keberadaan Gua Maria Sartika masuk di wilayah Gereja Santo Paulus Sampangan. Dibawah naungan Paroki Santa Perawan Maria Randusari Katedral Semarang.

Terus..arti Sang Ratu Tyasing Kautaman yang berasal dari Bahasa Jawa? 

Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti "Sang Ratu Keutamaan Hati". Jika ditafsirkan, Sang Ratu merujuk kepada sosok Bunda Maria yang memiliki gelar sebagai Ratu Surga. Sebab, Bunda Maria adalah Bunda Kristus yang adalah Sang Raja di atas segala raja di bumi ini (lih. Why 1:5). 

Sedangkan makna Tyasing ialah Hati, Kautaman adalah Keutamaan. Maka sudah layak dan sepantasnya kita meneladani Bunda Maria "Sang Ratu Keutamaan Hati".

Cikal bakal Gua Maria Sang Ratu Tyasing Kautaman

Gua Maria Sartika ini masuk dalam wilayah lingkungan Santo Agustinus- Sukorejo. Berdiri di atas lahan pemberian keluarga Soebarno. Namun sempat mengalami kendala lantaran ditentang pemuka agama nonkatolik di luar wilayah. Sebab jika menjadi "objek wisata religi", dikhawatirkan mengganggu aktivitas masyarakat sekitar. 

Pada 2004, akhirnya pembangunan Taman doa Gua Maria Sartika rampung. Hal itu ditandai dengan pemberkatan dan peresmian oleh Romo J. Soekardi. Pr dari Paroki Katedral. Alhasil, umat lingkungan Santo Agustinus- Sukorejo rutin menggelar ibadat tiap Malam Jumat Kliwon (sebelum masa pandemik Covid-19). 

Kesan Sorehore.com menyepi di Gua Maria Sartika? 

Gua Maria Sang Ratu Tyasing Kautaman atau Gua Maria Sartika di Semarang

Sebagai perantau yang hampir dua tahun mencari rezeki di ibu kota provinsi Jawa Tengah, saya baru dua kali mengunjungi taman doa ini. Itu pun mengetahuinya secara tidak sengaja pas googling artikel random Covid-19, eh ke-distract. (**Terima kasih mbak Isma Swastiningrum atas artikel Gua Maria Sartika di Inibaru. Salam kenal sebagai sesama kelahiran Blora.)

Kunjungan pertama, itu sekitar pertengahan September lalu, bersama pasutri "si Papa Pelaut" dan "Bunda Perawat Corona". Berangkat siang hari mengendarai mobil. Karena kami berpikir jaraknya jauh, yakni terletak di Gunungpati yang berdiri Universitas Negeri Semarang (Unnes), pusat buah durian, hingga wisata alam Gua Kreo. 

Sedangkan yang kedua pada awal Oktober ini. Tetapi malam hari dan mengendarai sepeda motor. Ternyata datang malam hari suasananya lebih sepi dan tenang. Belum lagi letak taman doa ini bersebelahan dengan makam. Horor? Enggak. 

Namun begitu mencuci muka dari sumber mata air berupa kran yang terletak di sudut pojok, sensasinya segar. Selain itu, Gua Maria Sartika juga menyuguhkan pemandangan ikonik. 

Ziarah ke Gua Maria Sartika malam hari serasa memetik bintang.. 

Pemandangan malam hari di Gua Maria Sartika Semarang

Inilah keunggulan letak taman doa Gua Maria Sartika yang berada di lereng bukit. Dari tempat duduk untuk berdoa yang mirip halte, kita bisa memandang panorama Kota Semarang pada malam hari. 

Jarak dengan bulan terasa dekat. Jutaan bintang yang terlukis di langit malam serasa memayungi doa, harapan, kegelisahan, dan segala pikiran yang berkecamuk di batin kita. Rasanya, sebagai manusia kita teramat sangat kecil dihadapan sang empuNya pemilik semesta. Ad Jesum per Maria atau Menuju Yesus melalui Bunda Maria. 

Rute menuju Gua Maria Sartika 

Berbekal Google Maps, ternyata lokasinya tak jauh dari tempat kost saya di sekitar bangjo Sampangan (dari arah Tugu Muda maupun Sam Poo Kong). Begitu melintasi Kretek Wesi (jembatan besi), perempatan pertama Jalan Dewi Sartika langsung belok kanan. 

500 Meter kemudian, arahkan pandangan mata ke kiri jalan. Sebab ada plang kecil masuk gang ke Jl. Dewi Sartika Barat VI. Jalannya agak menanjak dan sempit, tidak mungkin bisa dilalui bus. Begitu menemukan masjid Al Hidayah dengan bangunan berwarna hijau khas Nahdlatul Ulama (NU), langsung belok kanan memutarinya dari belakang. 

Parkirkan mobil di sekitar pekarangan warga. Kalau naik sepeda motor bisa langsung menuju lokasi. Karena masih ada satu gang lagi ke kiri menanjak menuju Gua Maria Sartika. Nah, ternyata lokasinya bersebelahan langsung dengan TPU Sukorejo. 

Quote of the day:

"Raihlah setinggi-tingginya karena bintang lokasinya tersembunyi dalam dirimu. Bermimpilah sedalam-dalamnya karena setiap impian mendahului impian" - Rabindranath Tagore 

(Aditya Wijaya/Sorehore.com) 

Sorehore
Sorehore.com dirancang sebagai ruang alternatif untuk menulis dan mencatatkan kisah perjalanan sebagai kliping digital

Related Posts

Follow by Email