Slider

5/random/slider

Advertisement

Main Ad

Mbah Binah, Penjual Wayang Legendaris di Semarang

Ini cerita di luar perayaan 27 tahun pementasan wayang kulit "Jumat Kliwon" yang digelar Teater Lingkar pada Februari 2019 lalu. Bertemu sosok perempuan berusia senja yang biasa membuka lapak wayang di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. 


Penjual wayang legendaris Mbah Binah atau Mbah Wayang di TBRS Semarang
Mbah Binah atau akrab disapa Mbah Wayang berjualan di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang 

Mbah Binah Dijuluki Mbah Wayang

Sorehore.com - Nenek atau simbah Binah namanya. Begitu saya telusuri melalui Google translate, Binah dalam bahasa Jawa memiliki arti Sirna. Sesuai namanya, gumamku. Karena laku hidup mbah Binah yang memiliki sapaan legendaris Mbah Wayang ini selalu berdaya dan tak pernah sirna.

Padahal dia mengaku telah berusia satu abad. Usia yang bikin melongo lantaran ketika orang sebayanya mulai sakit-sakitan atau menghuni panti jompo, mbah Binah justru masih menggelar lapaknya dengan sejumlah wayang kulit, wayang kertas, dan hiasan kulit kambing bergambar wayang.

Mbah Binah Berasal dari Pedan, Kulakan Wayang di Kota Solo

Selain di pusat kebudayaan TBRS, warga Kelurahan Ngesrep, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang ini terkadang juga menggelar lapaknya di Radio Republik Indonesia (RRI). Namun, kesehariannya berjualan wayang di lantai dua Pasar Burung Karimata.

"Dulu kalau berjualan selalu dengan mbah lanang (almarhum suaminya-Red). Sudah 15 tahun tidak didampingi. Kalau kulakan wayangnya diantar dari Solo," ujar perempuan yang memiliki belahan hati bernama Arjo Sakiyo.

Mbah Binah, penjual wayang legendaris di Semarang
Selfie bareng dengan mbah Wayang legendaris 

Begitu menyebut Kota Bengawan Solo, lantas saya pun menanyakan daerah asal mbah Binah. Ternyata diluar dugaan, dia juga berasal dari Klaten. Tepatnya di sebuah wilayah yang terkenal sebagai sentra kerajinan lurik, yakni Pedan. Toss mbah, batinku.

"Tidakkah alam selalu menolong apa saja yang masih berhasrat untuk hidup, meski sudah terlalu lelah hidupnya dimakan usia tua?" 

Itulah salah satu petikan kalimat G.P Sindhunata alias Romo Sindhu dalam novel fantasi pewayangan berjudul Anak Bajang Menggiring Angin. Kalimat itu tampaknya cocok untuk menggambarkan sosok mbah Binah.

"Dalange apik- elek. Dagangane mboh payu opo ora, pokoke tetep mangkat. Yen ora aku digoleki langgananku. (Entah dalangnya yang tampil mainnya baik atau buruk. Jualan wayangnya laku atau tidak, pokoknya harus berangkat berjualan. Kalau tidak berjualan dikhawatirkan dicari oleh pelanggan- Red)," ujar Mbah Wayang.

(Aditya Wijaya/Sorehore.com) 
Sorehore
Sorehore.com dirancang sebagai ruang alternatif untuk menulis dan mencatatkan kisah perjalanan sebagai kliping digital

Related Posts

Follow by Email