Slider

5/random/slider

Advertisement

Main Ad

Inspirasi Seabad(i) Maestro Keroncong Gesang

Maestro keroncong Bengawan Solo Gesang

Sorehore.com - Mendiang maestro keroncong asal Kota Solo, Gesang Martohartono telah berpulang pada 20 Mei 2010 silam. Namun, karya dan jasa pemilik nama kecil Sutardi ini masih tersimpan dan membekas di hati para penikmat musik keroncong.

Danis Sugiyanto (46) salah satunya. Menurut seniman sekaligus musisi grup keroncong Swastika ini, karya ciptaan Gesang adalah jaminan mutu dan secara komersial mempunyai nilai jual tinggi. Meskipun karya pria kelahiran Kampung Kemlayan, Surakarta pada 1 Oktober 1917 tersebut tidak lebih dari 50 lagu. Hal itu dia ketahui saat menyusun thesis berjudul 'Sumbangan Komponis Gesang Martohartono terhadap Musik Indonesia' guna meraih gelar pascasarjana di Universitas Gajah Mada (UGM). 

"Mbah Gesang itu komponis yang tidak produktif. Karyanya tak lebih dari 50 lagu, tapi terdapat 15 lagu andalannya yang menjadi master piece. Padahal waktu itu belum banyak media. Misalnya lagu 'Bengawan Solo' yang diciptakan saat usia 23 tahun. Hingga Mbah Gesang sudah meninggal, karyanya tetap abadi," ujar Danis disela perayaan Seabad Gesang di Omah Sinten Heritage Hotel & Resto Solo, kemarin.

Tak pelak, pria yang menjadi staf lokal Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Santiago, Chile ini menyebut sosok Gesang sebagai legendaris sekaligus inspirator. Bukan hanya mengarungi pasang surut musik keroncong di Indonesi, namun juga menjadikan 'Bengawan Solo' go international. Bahkan di mata internasional, sebut Danis, jika membicarakan Indonesia pasti tak lepas dari kiprah Gesang. 

"Orang mancanegara mengetahui Indonesia go international itu ada tiga hal. Pertama, Pak Karno (Presiden Soekarno), lalu pulau Bali, dan terakhir lagu Bengawan Solo, walaupun di kawasan Asia Pasifik, dan Belanda. Nah, kalau orang sudah berjasa lantas apa balas budinya? Mungkin pemerintah bisa mengabadikan Gesang sebagai nama jalan atau gedung agar bisa menginspirasi banyak orang," papar Danis.

Pujian serupa juga meluncur dari Sruti Respati (37). Salah seorang diva keroncong asal Solo ini menilai, karya- karya Gesang telah membawa Indonesia dipandang sebagai sebuah bangsa berbudaya di mata internasional. Selain itu juga membawa dampak ekonomi dan alat diplomasi. 

"Karya- karyanya telah menghidupi saya secara profesi, hingga sekarang rejeki sampai besar. Tanpa 'Bengawan Solo', saya bukan siapa- siapa. Saya dari sekian juta orang yang menikmati karya dan menyanyikannya mewakili Indonesia di Korsel dan Jepang. (Perlu kah diabadikan sebagai nama jalan atau monumen lainnya?) Kalau ada monumen yang patut kita buat, kenapa enggak. Agungkanlah pahlawan di negeri sendiri, berkiblatlah terhadap kebudayaan sendiri. Karena itu semua akar kepribadian dan budaya kita," ucap Sruti.

(Aditya Wijaya/Sorehore.com) 

**artikel ini ditulis 2 Oktober 2017

Sorehore
Sorehore.com dirancang sebagai ruang alternatif untuk menulis dan mencatatkan kisah perjalanan sebagai kliping digital

Related Posts

Follow by Email