Slider

5/random/slider

Advertisement

Main Ad

Geliat Seni Putaran Miring Tanah Liat Bayat

Siapa tak kenal Bayat? Tokoh penyebar agama Islam di Jawa bergelar sunan yang namanya disematkan sebagai salah satu nama kecamatan di Kabupaten Klaten. Bila ingin mengenal salah satu jejak warisan kebudayaannya bisa dimulai di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten. Warisan itu berupa kerajinan gerabah berbahan tanah liat. 

Kerajinan gerabah tanah liat Bayat, Klaten

Sorehore.com - Mudah sekali menemukan tempat ini. Gapura besar bertuliskan "Selamat Datang Desa Keramik Pagerjurang Melikan" berdiri megah ditengah jalan raya Wedi-Bayat. Di kiri kanan jalan sejumlah keramik aneka bentuk dipajang di depan rumah-rumah warga. Tak heran jika kawasan ini disebut sentra gerabah dan keramik.

Salah seorang pengrajinnya ialah Suharno Harno Prawoko. Sepintas kediamannya mirip dengan semua rumah yang berada di Desa Melikan. Deretan gerabah bermotif batik, mulai dari guci, vas, gelas, piring, kendi, dan lainnya, dipajang pada sebuah rak mengisi teras rumahnya yang berlantai keramik putih.

"Ini (gerabah) tinggal sedikit mas. Terjual banyak saat libur Lebaran kemarin," ujar pria yang akrab disapa Harno ini saat ditemui pada Senin, 27 Juli 2015.

Lulusan Diploma Tiga (D3) jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surakarta (UNS) ini mengatakan, batik menjadi identitas karya cetakan gerabahnya sejak awal tahun 2010. Menurutnya, seperangkat alat makan berbahan gerabah, seperti gelas, piring, teko, dan kendi, secara fungsional tidak layak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah ia memutuskan menjual aneka bentuk gerabah yang menonjolkan sisi dekoratif ketimbang fungsional.

"Kalau hanya dibakar secara manual mudah korosit. Pasalnya, suhu panas yang dihasilkan sekitar 800 derajat celcius. Padahal saat gerabah dipanaskan, idealnya suhu berkisar 1.150 derajat. Tapi mau bagaimana lagi, rata-rata pengrajin disini tidak memiliki alat pemanasnya," ucapnya seraya menunjukkan sebuah cangkir yang mengkilap layaknya porselen.

Karena itulah, beberapa waktu lalu Harno menerima bantuan berupa heater (pemanas) gerabah senilai Rp 25 juta dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogya. Heater berbahan gas elpiji itu dititipkan kepadanya agar digunakan semua pengrajin gerabah di desanya.

Gerabah Motif Batik Khas Bayat

Ditambahkannya, gerabah motif batik karyanya tidak mengikuti berbagai pakem yang sudah ada. Motif bunga, daun, kupu-kupu, dan sebagainya, spontan muncul dari benaknya yang menggerakkan kibasan kuasnya. Sebabnya, media gerabah memiliki bentuk yang berbeda daripada selembar batik. 

"Saya tidak mau mempersulit diri. Kalau kita memakai motif sesuai pakem maka biaya waktu pengerjaan dan nilai jual pasti tidak ketemu. Karena motif batik itu jenis dan turunannya banyak. Selain itu, bila kita melukis guci pasti ada lekukannya. Sedangkan batik flat dan bisa ditekuk-tekuk," tambahnya.

Melepaskan Status Guru Bahasa Inggris

Tak disangka, ayah dua orang anak ini merupakan mantan guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Namun sebagai warga asli Melikan, darah pengrajin gerabah mengalir pada Harno dari kedua orangtuanya. Pada 2003 ia mulai mengurangi jam mengajarnya dan kembali terjun dalam bisnis tanah liat ini.

"Tahun 2003 sampai 2007 ekspor gerabah dan keramik dari Melikan sangat bagus. Setelah surut, meski tidak memiliki kemampuan menggunakan alat pemutar, saya beralih dari supplier menjadi murni pengrajin. Berjalannya waktu, tahun 2010 baru saya memutuskan mencetak gerabah bermotif batik dan booming pada tahun 2012," kata Harno.

Sebagai Guru Tidak Tetap, selama 12 tahun ia mengajar di SMK Wasis Jogonalan. Kemudian tahun 2013, di SMA Muhammadiyah 8 Bayat, Harno melepaskan statusnya. Ia memilih fokus menjalani usahanya tersebut. Namun demikian, berkat relasinya sebagai guru, usahanya sering didatangi anak-anak dari tingkat Taman Kanak (TK) hingga perguruan tinggi. 

"Bulan Mei kemarin saya penuh. Ada anak PAUD, TK, SD yang menggelar kegiatan parenting disini. Mereka menciptakan hasil karyanya disini lalu dibawa pulang sebagai pembelajaran di sekolah," ujarnya.

Teknik Putaran Miring Ikon Gerabah Bayat

Sesaat kemudian, Harno mengajak masuk kedalam salah ruangan rumahnya yang ia sebut sebagai laboratorium mini. Bengkel kerjanya itu berlantai plester semen, dengan dinding bercat biru. Di ujung sudutnya terdapat dua alat pemutar gerabah miring mini. Lantas ia pun memanggil sang istri, Sri Jarwanti. 

Dengan meja kayu bundar pipih, Sri menggenggam tanah liat yang sedikit dibasahi air diatas piringan itu. Posisi kedua kakinya agak serong ke kiri. Ia menghentak sebilah bambu yang terhubung pada sebuah tali di pangkal pemutar dengan kaki kanannya. Dengan teknis seperti itu, maka piringan kayu diatasnya berputar. Dalam hitungan menit, sebuah vas berukuran mini berhasil terbentuk.


"Kebetulan istri saya juga asli Melikan. Dari jumlah pengrajin harian disini, 99,9 persen yang menguasai teknik putaran miring adalah kaum perempuan. Kalau prianya paling yang bisa cuma 1 atau 2 orang. Tapi sekarang jaman sudah berubah. Ada kekosongan generasi yang bisa meneruskan tekhnik ini. Meski secara wilayah masuk Wedi, namun saya bermimpi untuk membuat museum gerabah mini disini untuk nguri-nguri teknik ini," tutup Harno.

 (Aditya Wijaya/Sorehore.com) 


Sorehore
Sorehore.com dirancang sebagai ruang alternatif untuk menulis dan mencatatkan kisah perjalanan sebagai kliping digital

Related Posts

Follow by Email