Slider

5/random/slider

Advertisement

Main Ad

Film Bisu "Setan Jawa": Kemiskinan, Mistisme, dan Ratu Adil

Film Setan Jawa merupakan film bisu yang mengisahkan jalinan cinta tragis berlatar awal abad ke-20, ketika Indonesia masih berada di bawah kekuasaan kolonial. Film karya sineas kawakan Garin Nugroho ini dikemas secara live dengan iringan orkestra gamelan yang dipimpin oleh Rahayu Supanggah. 

Menaksir Pesugihan Setan Jawa 


Sorehore.com - Tidak ada kata mutiara atau quotes dari penggalan adegan percakapan yang biasa menjadi ingatan usai menonton film. Tidak ada warna mencolok yang menyilaukan mata dari adegan demi adegan. 

Yang tersaji hanya ekspresi, gerak tubuh, dan alunan tembang serta sayup-sayup musik dari perangkat gamelan. Itulah pengalaman tak biasa kala menyaksikan pementasan film "Setan Jawa".

Film bisu hitam putih pertama karya Garin Nugroho itu dikemas secara 'live' orkestra sinden dan sejumlah pengrawit alias pemain gamelan yang diciptakan oleh komposer Rahayu Supanggah.

Berdurasi 70 menit, ketegangan dan kejutan dalam setiap adegan film yang mengambil setting awal abad ke-20 masa kolonialisme itu dihidupkan oleh para pemainnya dalam balutan tari kontemporer. 

Menurut sineas Garin Nugroho, film Setan Jawa merupakan proyek kolaborasi antara dirinya dan Rahayu Supanggah setelah 10 tahun lalu menggarap 'Opera Jawa' (2006). 

Film Setan Jawa Terinspirasi Film Horor Bisu "Nosferatu" 


Film yang proses riset hingga pengerjaannya dibuat selama 3 tahun itu terinspirasi dari film horor bisu asal Jerman ‘Nosferatu‘ (1922) karya Friedrich Wilhelm Murnau. Pasalnya, film bisu tak ubahnya dengan pertunjukan sebuah wayang kulit, dimana ada layar putih raksasa dan deretan pemain gamelan di depannya. 

"Saya melihat bahwa film bisu tidak lebih dari wayang kulit juga. Dan ini pementasan tur besar dengan melibatkan jumlah orang banyak. Merayakan tiga hal, yakni orkestra gamelan, merayakan film itu sendiri sebagai sebuah seni, dan merayakan mistisme sebagai bagian terbesar dari keindonesiaan kita lewat Setan Jawa," ujar Garin, usai nonton bareng film Setan Jawa di Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Jumat 14 Agustus 2017.

Demi Cinta, Mengabdi Pesugihan Kandang Bubrah


Ia mengatakan, film Setan Jawa mengisahkan seorang pemuda miskin, Setio (diperankan Heru Purwanto) yang mencari jalan pintas untuk memperoleh kekayaan dengan bersekutu dengan Setan Jawa (diperankan Luluk Ari), empunya pesugihan Kandang Bubrah. Setio bersekutu demi menaklukkan hati puteri bangsawan Jawa, Asih (diperankan Asmara Abigail).

Film bisu yang tayang perdana September 2016 lalu ini dibuka dengan adegan anak kecil mendekam di penjara lantaran kedapatan mencuri di rumah orang kaya. Dia dihukum secara kejam hingga menjelma menjadi setan pesugihan Kandang Bubrah yang memiliki istana di sebuah candi.

"Setting film pada zaman kolonialisme Hindia Belanda tahun 1920-an yang saat itu Jawa mengalami kemiskinan luar biasa. Sehingga banyak sekali mistisme tumbuh seperti Ratu Adil. Karena sejak Pangeran Diponegoro hingga munculnya Cokroaminoto, selama lebih dari 70 tahun orang Jawa tidak memiliki Raja," kata Garin.

Balutan Kemiskinan, Mistisme, dan Ketidakadilan Film Setan Jawa 



"Tanah-tanah hilang untuk digunakan menanam kebun kopi, (kasta) sudra, uang datang tapi yang menguasai bank orang-orang etnis Cina dan Belanda. Masyarakat Jawa kehilangan tanah karena tingginya pajak yang mengakibatkan banyak kemiskinan. Disisi lain juga banyak apa disebut pesugihan tadi. Orang mencari jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan. Maka dijadikan prolog adegan anak kecil yang kemudian berubah menjadi semacam setan," imbuhnya.

Ditambahkan Garin, faktor kemiskinan, mistisme, dan ketidakadilan itu akan selalu bergandengan. Bahkan proses pemilihan presiden (Pilpres) di Indonesia tak bisa dilepaskan dari gosip mistisme itu sendiri.

"Sama juga zaman sekarang. Bagaimana banyak orang tidak mempunyai tanah, nyari duit di bank susah, banyak jenis- jenis pajak muncul. Bahkan dalam Pilpres itu juga diiringi gosip mistisme. Tidak ada  presiden terpilih tanpa gosip mistisme itu sendiri," pungkasnya.

Sebagai informasi, film bisu hitam putih Setan Jawa telah diputar ke sejumlah negara sejak dirilis 2016. Mulai dari Singapura, Belanda, Inggris, Jerman, dan Jepang pada pertengahan 2019 lalu. 

(Aditya Wijaya/Sorehore.com) 

**sumber foto Instagram @setanjawamovie



Sorehore
Sorehore.com dirancang sebagai ruang alternatif untuk menulis dan mencatatkan kisah perjalanan sebagai kliping digital

Related Posts

Follow by Email