Slider

5/random/slider

Advertisement

Main Ad

Bersih Desa Tanjungsari, Tradisi Dekat Tembok Pabrik Gula Ceper

Pabrik Gula Tjepper atau Pabrik Gula Ceper Baru merupakan peninggalan era kolonial yang terletak di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tak jauh dari pabrik gula terdapat sebuah desa bernama Dlimas. Setiap tahun masyarakat setempat selalu menggelar tradisi Upacara Bersih Desa Tanjungsari.

Sorehore.com - Alunan gending Jawa mengalun dari Sasana Kridha Budaya, pelataran Bangsal Tanjungsari di Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Klaten. Musik dari seperangkat gamelan itu mengiringi langkah puluhan orang yang hendak mengikuti tumpengan massal tradisi Upacara Bersih Desa Tanjungsari.

Filosofi Ayam Ingkung Ubarampe Bersih Desa Tanjungsari 

Warga Dlimas, Kecamatan Ceper, Klaten menyiapkan ubarampe sesaji Tradisi Bersih Desa Tanjungsari

Satu per satu mereka datang membawa berbagai ubarampe (kelengkapan) sesaji. Misalnya, ayam ingkung. Diambil dari kata Jinakung yang artinya mengayomi, dan Manekung artinya memanjatkan doa. Tidak mengherankan, menu sesaji yang biasa disandingkan dengan tumpeng ini memiliki porsi ayam utuh dan terlihat sedang bersungkur. 

Selain ayam ingkung, ada juga yang datang membawa jajanan pasar, berbagai jenama minuman ringan, hingga beraneka buah seperti jeruk, semangka, kedondong, apel. Kelengkapan sesaji itu dihiasi dengan rangkaian bunga pada upacara bersih desa berlangsung Jumat, 6 Oktober 2017 ini. 

Eni Widayati (27) salah satunya. Seperti warga lainnya, dia duduk lesehan menata ubarampe di deretan meja berukuran selebar kedua lengan tangannya. Masing-masing meja itu mewakili kehadiran satu rumah atau kepala keluarga. Bagi kerabat yang tidak bisa datang lantaran telah merantau di luar kota biasanya mereka menitipkan uang agar dibelanjakan ubarampe. 

"Ubarampe yang disajikan tergantung rejekinya masing- masing. Tradisi Bersih Desa Tanjungsari ini sudah berjalan turun- temurun dari simbah buyut (nenek moyang) kami. Jadi kalau bisa ikut itu rasanya plong (lega)," kata Eni, yang merogoh kocek sekitar Rp 2 juta untuk ubarampe sesaji. 

Datang dari Jakarta, Pulang ke Klaten demi Bersih Desa Tanjungsari  

Pepunden leluhur warga Dlimas melestarikan Bersih Desa Tanjungsari

Hal senada juga disampaikan Supartini (57). Warga kelahiran Dlimas ini sekarang berdomisili di Jakarta. Ia sengaja mudik ke Klaten bersama anak cucunya agar bisa menghadiri Bersih Desa Tanjungsari. Sebuah kearifan lokal untuk melestarikan tradisi yang digelar setiap bulan Sara setelah tanggal 8 (kalender Jawa), pada hari Jumat Kliwon atau Wage. 

Sebab, masyarakat yang bermukim tak jauh dari eks Pabrik Gula Tjepper ini meyakini Upacara Bersih Desa Tanjungsari merupakan salah satu ungkapan syukur atas kelimpahan rejeki dari Tuhan.

"Tujuannya untuk nguri-nguri (melestarikan) seperti yang sudah dilakukan simbah-simbah saya dengan membawa ubarampe untuk kendurian. Harapannya, satu keluarga dapat diberikan keselamatan dalam mengarungi hidup serta diberi kemudan rejeki dari Tuhan," ucap Supartini, yang mengaku menjelang Upacara Bersih Desa Tanjungsari selalu diberikan kelimpahan rejeki berlebih.

Bersih Desa Tanjungsari Didoakan Lintas Pemuka Agama 

Kumandang adzan salat Jumat menghentikan alunan musik gamelan. Begitu selesai adzan, warga semakin ramai berkumpul di bangsal yang di tengah-tengahnya berdiri pohon Tanjung dan dua patung perempuan kembar pepunden leluhur desa, yakni Nyi Tanjungsari dan Nyi Payung Gilap. 

Setelah kemunculan para penari Gambyong, perwakilan pemuka agama dari Islam, Hindu, Kristen, dan Katolik--cerminan keberagaman umat agama di Desa Dlimas, memanjatkan doa secara bergantian sebagai penanda puncak kendurian. 

Bersih Desa Tanjungsari Upaya Melestarikan Tradisi Leluhur 

Warga Dlimas memadati tradisi Bersih Desa Tanjungsari di Kecamatan Ceper, Klaten

Menurut Kepala Desa Dlimas, Giyatmo, hajatan Bersih Desa Dlimas dikemas dalam rangkaian acara bertajuk 'Gelar Budaya Tanjungsari'. Dimulai dari pasar malam (24 September- 7 Oktober), kendurian yang dilanjut pentas tari dan wayang orang, hingga pentas tari dan ketoprak. 

Selain melestarikan tradisi leluhur, tujuannya sebagai ajang silaturahmi dan kebersamaan warga tanpa memandang sekat agama, ras, dan golongan. 

"Kalau dulu ubarampe setelah didoakan langsung jadi rebutan. Kalau sekarang dibawa pulang atau saling ditukar dan bagikan. Karena berjalannya waktu juga dimeriahkan dengan berbagai pentas wayang orang dan ketoprak. Makanya warga yang merantau pasti meluangkan waktu untuk pulang kampung nguri-nguri tradisi leluhur ini," ujarnya.

 (Aditya Wijaya/Sorehore.com) 

Sorehore
Sorehore.com dirancang sebagai ruang alternatif untuk menulis dan mencatatkan kisah perjalanan sebagai kliping digital

Related Posts

Follow by Email