Slider

5/random/slider

Advertisement

Main Ad

Fakta Menarik "Rumah Dokumenter" Tonny Trimarsanto


Sorehore.com - Bagi pecinta film dokumenter, nama Tonny Trimarsanto tentu tak asing di telinga. Bahkan beberapa waktu, sutradara asal Klaten, Jawa Tengah itu menyita perhatian publik lantaran membawa pulang Piala Citra di ajang penghargaan film terbesar di tanah air, Festival Film Indonesia (FFI). 

Meski bukan penghargaan yang pertama, film garapannya berjudul Bulu Mata yang mengisahkan kehidupan komunitas transgender di Bireuen, Aceh itu dinobatkan sebagai pemenang Film Dokumenter Panjang Terbaik di ajang yang digelar sejak tahun 1955 tersebut.

Berikut fakta-fakta menarik sosok Tonny Trimarsanto:

1. Spesialis sutradara film waria

Film dokumenter Bulu Mata

Tonny Trimarsanto dikenal sebagai sutradara film dokumenter spesialis isu transgender atau waria. Selain Bulu Mata yang menyabet Piala Citra, tangan dingin Tonny mengangkat isu sensitif tersebut telah dia tancapkan lewat film Renita Renita (2007) dan sekuelnya, The Mangoes (Mangga Golek Matang Pohon) (2012). 

Bahkan saat ini Tonny tengah merampungkan dua film dokumenter lainnya tentang dunia transgender. "Saya dua tahun ini sedang jalan menggarap film 'Nur' tentang pesantren waria di Kotagede, Yogyakarta; dan Bissu, pemimpin spiritual di Bone yang fisiknya cowok, tapi dia sebagai cewek. Jadi, semakin spesialis film transgender," kata Ketua Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN). 

2. Debut di film sebagai Penata Artistik/Art Director

Tonny Trimarsanto Rumah Dokumenter/Sore Hore

Tonny Trimarsanto merupakan sutradara dokumenter yang memiliki segudang prestasi di berbagai penghargaan festival film di kancah internasional. Namun siapa sangka, dia mengawali karir di bidang film sebagai periset materi visual di film berjudul Daun di Atas Bantal (1993). Bahkan dia diganjar Best Art Director dari berbagai festival internasional dari film besutan Garin Nugroho tersebut.

"Sebenarnya saya mulai belajar film sebagai periset materi visual penulis skenario, dan penata artistik untuk film- film Mas Garin sejak 1992. Mulai dari Daun di Atas Bantal, film Bulan Tertusuk Ilalang (1995), dan Puisi Tak Terkuburkan (1999). Setelah itu, sekitar tahun 2000 memutuskan untuk keluar. Maksudnya, saya sudah tidak di artistik lagi, saya sudah memilih di dokumenter," ujar sineas kelahiran Klaten,  21 Oktober 1970.

3. Hobi menulis

Buku karya Tonny Trimarsanto

Selain menjadi sutradara film, Tonny Trimarsanto ternyata memiliki bakat lain, yakni menulis. Semasa kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret (Fisip UNS) Surakarta, dia gemar menulis artikel tentang isu di televisi, budaya pop, opini, hingga resensi film di berbagai surat kabar dan majalah. 

"Honornya lumayan, bisa dipakai untuk tambahan biaya kuliah. Saya juga sudah menerbitkan dua buku, yakni 'Membuat Film Dokumenter- Gampang Gampang Susah' dan 'Renita, Renita: Catatan Proses Membuat Film Dokumenter'. Selain itu juga menjadi editor dua buku 'Membaca Film Garin' dan 'Televisi Publik Indonesia'," beber Tonny, pemilik rumah produksi Rumah Dokumenter.

4. Youtuber


Tonny Trimarsanto ternyata selama lebih kurang sembilan tahun mengunggah, menonton, dan berbagi video di Youtube. Meskipun jumlah pelanggan alias subscriber masih dibawah 100, namun kontennya berisi trailler- trailler film dokumenter yang pernah dia buat dan memenangkan berbagai festival internasional. Sehingga cocok untuk belajar,

Adapun channel YouTube pertamanya ialah Trimarsanto Tonny dengan unggahan video berupa film The Dream Land, Renita Renita, Serambi, hingga Save Pasar Johar the Great Achievement of Indonesian Heritage. Kanal tersebut dipublikasikan tanggal 21 Mar 2008. Berikutnya kanal Trimarsanto Dokumenter yang dipublikasikan pertama kali 28 Okt 2013. (Aditya Wijaya) 

Sorehore
Sorehore.com dirancang sebagai ruang alternatif untuk menulis dan mencatatkan kisah perjalanan sebagai kliping digital
Lebih baru Terlama

Related Posts

Follow by Email